Ankylosing spondylitis adalah penyakit inflamasi kronis yang menyerang tulang belakang dan sendi sakroiliaka. Kondisi ini dapat memicu rasa nyeri punggung bawah dan kekakuan.
Berbeda dengan nyeri punggung biasa, keluhan pada kondisi ini sering berlangsung lama dan dapat muncul berulang. Jika diabaikan terus menerus tanpa penanganan yang tepat, peradangan dapat memengaruhi fleksibilitas tulang belakang dan aktivitas sehari-hari.
Karena gejalanya sering menyerupai keluhan nyeri otot atau kelelahan biasa, banyak orang tidak menyadari kondisi ini sejak awal. Untuk memahami secara mendalam kondisi ini, simak uraian berikut.
Penyakit Bechterew atau ankylosing spondylitis (AS) adalah salah satu jenis arthritis (radang sendi) yang utamanya menyerang tulang belakang.
Secara harfiah, ankylosing berarti kaku dan spondyl merujuk pada tulang belakang (tulang aksial). Kondisi ini secara progresif menciptakan "jembatan tulang" di antara sendi sakroiliaka (pertemuan tulang belakang dan pinggul), yang perlahan merampas fleksibilitas tubuh.
Jika peradangan berkembang hingga mencapai tulang dada, aktivitas sederhana seperti menarik napas dalam pun dapat terasa sulit karena rongga dada yang ikut menyatu dan kaku.
Gejala awal sering kali muncul secara perlahan dan menyerupai pegal biasa. Namun, ada ciri khas yang membedakannya.
Berikut adalah beberapa gejala ankylosing spondylitis yang perlu Anda waspadai:
Seiring berkembangnya penyakit, rasa sakit dapat menjalar ke leher, perut, tulang rusuk, hingga tumit. Lantas, apa penyebab ankylosing spondylitis?
Ankylosing spondylitis adalah penyakit autoimun. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan menyerang tubuh Anda, alih-alih melindunginya.
Hingga saat ini, para ahli masih meneliti apa penyebab penyakit ankylosing spondylitis secara pasti. Namun, penelitian telah menemukan bahwa mutasi genetik tertentu terkait erat dengan terjadinya AS.
Mutasi genetik adalah perubahan pada urutan DNA Anda yang terjadi ketika sel Anda membelah untuk membuat salinan dirinya sendiri.
Setidaknya, ada lebih dari 60 gen yang bermutasi, yang mungkin menyebabkan AS. Salah satu contohnya adalah gen antigen-B leukosit manusia (HLA-B27 atau Leukocyte Antigen-B27).
Meskipun memiliki kaitan yang sangat kuat, keberadaan gen ini bukan satu-satunya penentu; faktanya, tidak sedikit orang tanpa gen HLA-B27 yang tetap dapat mengembangkan penyakit ini, sementara banyak orang yang memilikinya justru tidak pernah menunjukkan gejala sama sekali.
Selain itu, terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang seseorang terkena kondisi ini meliputi:
Jika Anda merasakan gejala-gejala di atas disertai adanya faktor risiko, dokter akan menyarankan serangkaian tes untuk menegakkan diagnosis. Tes tersebut antara lain:
Pemindaian adalah cara utama melihat kerusakan pada sendi sakroiliaka. Contohnya X-ray untuk melihat perubahan tulang yang sudah permanen, sementara MRI lebih efektif dalam mendeteksi peradangan pada tahap sangat awal sebelum kerusakan tulang terlihat jelas pada rontgen biasa.
Meski tidak ada tes darah tunggal yang dapat mendiagnosis kondisi ini secara langsung, pemeriksaan laboratorium sangat membantu mengonfirmasi adanya aktivitas peradangan sistemik. Pemeriksaan darah juga berfungsi untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
Tes ESR berfungsi untuk mengukur seberapa cepat sel darah merah mengendap di dasar tabung reaksi.
Ketika terjadi inflamasi, protein darah akan menggumpal dan menjadi lebih berat dari biasanya. Akhirnya sel darah dengan cepat jatuh dan mengendap di dasar tabung. Semakin cepat sel darah turun, semakin parah peradangannya.
Dokter juga mungkin menyarankan tes darah untuk mencari keberadaan gen HLA-B27. Hasil tes yang positif dapat memperkuat diagnosis apabila Anda juga merasakan gejala klinis yang mendukung.
Setelah diagnosis ditegakkan, langkah selanjutnya adalah penanganan penyakit AS. Meski terdapat sejumlah opsi penanganan, di benak pasien pasti bertanya-tanya ankylosing spondylitis apakah dapat sembuh?
Secara medis, penyakit ini bersifat kronis dan belum ada obat yang dapat menghilangkannya secara total. Namun, pengobatan saat ini sangat efektif untuk mengendalikan gejala, mengurangi peradangan, dan mencegah perburukan kondisi serta komplikasi jangka panjang.
Rencana perawatan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Hal ini termasuk jenis dan tingkat keparahan gejala, usia, serta kondisi kesehatan secara umum.
Perawatan dapat mencakup:
Latihan fisik dan menjaga postur tubuh secara rutin dapat membantu mempertahankan kelenturan, memperluas rentang gerak, serta mengurangi gejala klinis ankylosing spondylitis.
Aktivitas seperti peregangan, yoga, latihan pernapasan, berenang, dan latihan postur dapat menjadi bagian dari perawatan menyeluruh yang juga mencakup pengobatan dan fisioterapi.
Anda juga dapat menggunakan bantal panas atau mandi air hangat untuk membantu meredakan nyeri dan kekakuan pada tulang belakang serta sendi yang terdampak. Sementara itu, kompres dingin atau es dapat Anda gunakan untuk mengurangi peradangan dan pembengkakan pada sendi yang terasa nyeri.
Pengobatan terbaru ankylosing spondylitis dapat melibatkan beberapa jenis obat, tergantung pada tingkat keparahan gejala dan respons tubuh terhadap terapi. Di antaranya, yaitu:
Alternatif lain yang dapat membantu mengurangi nyeri dan keluhan lainnya ada akupunktur dan terapi pijat yang memberikan efek relaksasi.
Operasi biasanya menjadi pilihan terakhir jika terjadi kerusakan sendi yang sangat parah, misalnya penggantian sendi panggul atau operasi koreksi pada tulang belakang yang sudah sangat membungkuk.
Ankylosing spondylitis adalah penyakit peradangan kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Kenali gejalanya sejak dini dan segera dapatkan penanganan agar peluang mengendalikan penyakit dan menjaga kualitas hidup menjadi lebih baik.
Jangan tunda hingga mobilitas Anda terbatas. Jika Anda bingung harus memulai dari mana atau ankylosing spondylitis berobat ke dokter apa, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dan Spesialis Penyakit Dalam.
Segera jadwalkan pemeriksaan Anda di RS Royal Progress untuk mendapatkan diagnosis akurat dan penanganan komprehensif dari tim medis ahli.
Baca Juga:
