Logo RS Royal Progress
Menu
Buat Janji Temu
Home Blog Stent Jantung: Fungsi, Prosedur, Risiko & Daya Tahannya

Stent Jantung: Fungsi, Prosedur, Risiko & Daya Tahannya

Stent jantung yang berukuran kecil ternyata berperan besar dalam menjaga agar aliran darah ke jantung tetap lancar. Alat berbentuk tabung berjaring ini dipasang pada pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat untuk membantu darah mengalir kembali dengan baik ke otot jantung.

Karena itu, stent sering menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit jantung koroner. Meskipun prosedur ini cukup umum dilakukan, banyak pasien masih memiliki pertanyaan seputar fungsi stent, cara pemasangannya, risiko yang mungkin terjadi, hingga apakah stent perlu diganti di kemudian hari.

Simak penjelasannya dalam artikel di bawah ini!

Apa Itu Stent Jantung?

Stent jantung adalah alat kecil berbentuk tabung berjaring yang dipasang di dalam pembuluh darah koroner.

Stent Jantung
Visualisasi Stent Jantung

Fungsinya seperti penyangga yang membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka sehingga aliran darah ke otot jantung tetap lancar. Dengan begitu, jantung tetap mendapatkan pasokan oksigen dan zat gizi yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik.

Pemasangan stent biasanya dilakukan saat prosedur angioplasti atau percutaneous coronary intervention (PCI). Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan balon kecil ke area pembuluh darah yang menyempit, lalu mengembangkannya untuk membuka sumbatan.

Bersamaan dengan itu, stent akan ikut mengembang dan menempel pada dinding pembuluh darah. Setelah balon dilepas, stent tetap berada di tempatnya untuk membantu menjaga jalur aliran darah tetap terbuka.

Saat ini, sebagian besar tindakan pemasangan stent menggunakan drug-eluting stent (DES), yaitu stent yang dilapisi obat khusus. Obat ini membantu mengurangi risiko pembuluh darah menyempit kembali setelah tindakan.

Jenis stent ini lebih efektif menjaga pembuluh darah tetap terbuka dibandingkan dengan angioplasti balon tanpa pemasangan stent. Oleh karena itu, DES telah menjadi pilihan yang paling banyak digunakan dalam prosedur angioplasti modern.

Stent Jantung Terbuat dari Apa?

Meskipun ukurannya kecil, stent jantung hadir dalam beberapa jenis dengan fungsi yang sedikit berbeda.

Secara umum, dokter menggunakan dua jenis stent yang paling sering dipakai:

Bare-Metal Stent (BMS)

Ini adalah stent yang seluruhnya terbuat dari logam medis, seperti stainless steel atau paduan kobalt-kromium. Stent ini berfungsi sebagai "penyangga" yang menjaga pembuluh darah tetap terbuka setelah penyumbatan ditangani.

Jenis ini telah digunakan selama puluhan tahun dan memiliki rekam jejak keamanan yang baik.

Drug-Eluting stent (DES)

DES memiliki bentuk dasar yang mirip, tetapi dilengkapi dengan lapisan obat khusus. Setelah dipasang, obat tersebut akan dilepaskan secara perlahan untuk membantu mengurangi risiko penyempitan kembali akibat pertumbuhan jaringan berlebih di sekitar stent.

Karena manfaat ini, DES kini menjadi jenis stent yang paling banyak digunakan. Anda juga tidak perlu khawatir soal bahan pembuatnya. Logam yang digunakan pada stent telah dirancang agar dapat "berdampingan" dengan tubuh manusia tanpa memicu reaksi penolakan dalam kondisi normal.

Namun, jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap logam tertentu, sebaiknya sampaikan kepada dokter sebelum prosedur. Informasi ini akan membantu dokter menentukan jenis stent yang paling aman dan sesuai dengan kondisi Anda.

Stent Jantung untuk Apa, Sebenarnya?

Stent jantung bertugas menjaga pembuluh darah tetap terbuka setelah sumbatan berhasil diatasi. Dengan begitu, darah yang membawa oksigen dapat terus mengalir ke otot jantung tanpa hambatan.

Anda dapat membayangkan stent seperti rangka penyangga kecil yang dipasang di dalam pembuluh darah. Setelah area yang menyempit dilebarkan melalui angioplasti, stent membantu mempertahankan jalur tersebut agar tidak mudah menyempit lagi di kemudian hari.

Saat ini, banyak stent yang digunakan merupakan drug-eluting stent, yaitu stent yang dilapisi obat khusus. Obat ini akan dilepaskan secara perlahan ke dinding pembuluh darah untuk membantu mencegah terbentuknya jaringan berlebih yang dapat menyebabkan penyempitan kembali.

Karena itu, risiko sumbatan berulang dapat lebih rendah dan hasil pengobatan cenderung bertahan lebih lama.

Apa yang Terjadi jika Stent Jantung Tersumbat?

Stent jantung dipasang untuk membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka dalam jangka panjang. Kabar baiknya, berkat teknologi stent yang semakin canggih, risiko penyumbatan ulang sekarang jauh lebih rendah dibandingkan dulu. Meskipun demikian, kemungkinan tersebut tetap ada dan perlu Anda ketahui.

Pada sebagian kecil pasien, area yang sudah dipasangi stent dapat kembali menyempit atau tersumbat. Kondisi ini umumnya terjadi karena dua hal.

Pertama, terbentuknya gumpalan darah di dalam stent yang disebut trombosis stent. Kedua, terjadinya penyempitan kembali pembuluh darah yang dikenal sebagai in-stent restenosis.

Restenosis biasanya terjadi karena adanya pertumbuhan jaringan baru atau terbentuknya plak baru di dalam stent yang sudah terpasang. Proses ini berlangsung perlahan, sehingga sering kali tidak langsung menimbulkan gejala yang jelas.

Trombosis stent dan restenosis memiliki karakteristik yang berbeda. Trombosis stent lebih sering terjadi pada masa awal setelah pemasangan dan dapat muncul secara tiba-tiba. Sementara itu, restenosis berkembang secara bertahap dalam hitungan bulan hingga tahun.

Meskipun berbeda, keduanya sama-sama dapat mengurangi aliran darah ke jantung dan memunculkan keluhan yang mirip dengan gejala sebelum pemasangan stent.

Karena itu, jangan menganggap sepele jika nyeri dada kembali muncul, Anda lebih mudah sesak napas, atau cepat lelah saat beraktivitas. Gejala-gejala tersebut bukan berarti stent pasti tersumbat, tetapi dapat menjadi sinyal bahwa kondisi pembuluh darah perlu diperiksa kembali oleh dokter.

Salah satu penyebab utama trombosis stent adalah menghentikan obat pengencer darah antiplatelet tanpa persetujuan dokter. Itulah mengapa penting untuk minum obat sesuai anjuran, tidak melewatkan kontrol rutin, dan mengikuti semua rekomendasi dokter. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga stent tetap bekerja dengan baik dan mengurangi risiko komplikasi di kemudian hari.

Jika Anda mengalami gejala mencurigakan, layanan Diagnostik & Perawatan Intensif RS Royal Progress siap memberikan evaluasi cepat dan menyeluruh.

Prosedur Stent Jantung

Memahami prosedur stent jantung secara garis besar dapat membantu Anda merasa lebih siap menghadapinya.

Berikut tahapannya:

  1. Dokter memberikan obat bius lokal di area pergelangan tangan atau selangkangan, lalu memasukkan selongsong tipis sebagai jalur masuk kateter.
  2. Kateter berisi balon yang sudah terpasang stent diarahkan menuju titik penyumbatan dengan panduan sinar-X.
  3. Setelah posisi tepat, balon dikembangkan. Stent ikut mengembang dan menempel pada dinding pembuluh darah.
  4. Balon dikempiskan dan ditarik keluar, sementara stent tetap berada di tempatnya secara permanen.
  5. Dokter memeriksa kembali aliran darah melalui gambar sinar-X untuk memastikan hasil yang optimal sebelum mengakhiri prosedur.

Sebagian besar pasien tetap sadar penuh selama prosedur dan hanya merasakan sedikit tekanan, bukan nyeri yang signifikan.

Apakah Operasi Pasang Stent Jantung Berisiko Besar?

Banyak orang membayangkan operasi pasang stent jantung sebagai operasi besar dengan sayatan lebar dan masa pemulihan berbulan-bulan. Faktanya, ini adalah prosedur minimal invasif, tidak ada pembedahan dada terbuka, dan kebanyakan pasien dapat pulang dalam 1 hingga 2 hari.

Istilah 'operasi' di sini lebih tepat disebut sebagai 'tindakan' atau 'prosedur', karena tidak melibatkan pembedahan dalam arti konvensional. Yang membuatnya terasa signifikan adalah dampaknya.

Prosedur singkat ini dapat langsung memulihkan aliran darah yang sebelumnya tersumbat dan secara signifikan mengurangi risiko serangan jantung.

Risiko Pasang Stent Jantung yang Perlu Anda Ketahui

Sama seperti tindakan medis lainnya, risiko pasang stent jantung tetap ada. Namun, Anda tidak perlu langsung khawatir. Dengan teknologi stent yang semakin canggih dan penggunaan obat yang tepat, prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dan sudah menjadi salah satu terapi yang umum dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pembuluh darah jantung.

Meskipun demikian, penting untuk tetap memahami kemungkinan risiko yang dapat terjadi, antara lain:

  • Muncul memar atau perdarahan ringan di area masuknya kateter, biasanya di pergelangan tangan atau lipat paha. Ini merupakan efek samping yang paling sering terjadi dan umumnya akan membaik dalam beberapa hari tanpa penanganan khusus.
  • Reaksi alergi terhadap cairan kontras yang digunakan saat prosedur berlangsung. Meskipun jarang, beberapa pasien dapat mengalami gatal, ruam, atau reaksi alergi lainnya.
  • Terbentuknya gumpalan darah di dalam stent (trombosis stent). Kondisi ini dapat menghambat aliran darah dan berisiko memicu serangan jantung. Karena itu, obat pengencer darah yang diresepkan dokter harus diminum secara teratur dan tidak boleh dihentikan tanpa konsultasi.
  • Penyempitan kembali pada pembuluh darah yang sudah dipasang stent (restenosis). Risiko ini jauh lebih rendah pada stent generasi terbaru yang dilengkapi dengan lapisan obat khusus untuk mencegah pertumbuhan jaringan berlebih.
  • Cedera pada pembuluh darah saat pemasangan kateter. Kasus ini tergolong jarang karena prosedur dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dengan bantuan teknologi pencitraan yang akurat.
  • Penurunan fungsi ginjal akibat zat kontras, terutama pada pasien yang sebelumnya sudah memiliki gangguan ginjal. Karena itu, dokter biasanya akan mengevaluasi kondisi ginjal sebelum tindakan dilakukan.

Sebelum prosedur dimulai, dokter akan menjelaskan semua manfaat dan potensi risikonya secara terbuka. Kondisi kesehatan Anda juga akan diperiksa secara menyeluruh agar keputusan pemasangan stent benar-benar menjadi pilihan yang paling aman dan memberikan manfaat terbesar bagi kesehatan jantung Anda.

Stent Jantung Tahan Berapa Lama?

Kabar baiknya, stent dirancang untuk bertahan secara permanen secara struktural. Begitu terpasang, ia menjadi bagian dari dinding pembuluh darah Anda. Namun, 'bertahan permanen' tidak sama dengan 'bebas masalah selamanya'.

Faktor yang menentukan keberhasilan jangka panjang stent meliputi jenis stent yang digunakan, kepatuhan terhadap obat antiplatelet sesuai durasi yang dianjurkan, serta perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, menjaga pola makan, dan mengontrol tekanan darah serta kolesterol.

Pasien yang konsisten menjalani gaya hidup sehat dan kontrol rutin umumnya memperoleh manfaat stent yang bertahan bertahun-tahun tanpa komplikasi berarti.

Untuk memantau kondisi jantung Anda secara berkala setelah pemasangan stent, RS Royal Progress menyediakan Paket MCU Spesial Jantung yang membantu mendeteksi potensi masalah sejak dini.

Jangan tunda lagi. Buat janji temu sekarang dan diskusikan langkah terbaik untuk kesehatan jantung Anda bersama Spesialis Jantung & Pembuluh Darah RS Royal Progress.

FAQ:

  • Apakah stent jantung dapat terdeteksi oleh alat pemindai di bandara?
    Tenang, stent jantung biasanya tidak akan membuat alarm berbunyi saat Anda melewati pemindai logam di bandara. Stent terbuat dari bahan khusus yang aman dan tidak mengganggu sistem keamanan bandara. Beberapa pasien memang membawa kartu identitas stent atau dokumen medis sebagai informasi tambahan, tetapi umumnya hal ini tidak wajib.
  • Apakah saya boleh menjalani MRI setelah pasang stent jantung?
    Pada umumnya, stent jantung modern aman untuk pemeriksaan MRI. Meskipun demikian, sebelum menjalani MRI, selalu beri tahu dokter atau petugas radiologi bahwa Anda memiliki stent. Informasi ini penting agar pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur keamanan yang tepat.
  • Berapa lama saya harus minum obat pengencer darah setelah pasang stent?
    Lama penggunaan obat pengencer darah tidak sama untuk setiap orang. Ada yang perlu mengonsumsinya selama beberapa bulan, ada juga yang lebih dari satu tahun, tergantung jenis stent dan kondisi jantungnya. Yang paling penting, jangan menghentikan obat tanpa izin dokter, karena hal ini dapat meningkatkan risiko terbentuknya sumbatan di dalam stent.
  • Apakah saya tidak boleh olahraga lagi setelah pasang stent?
    Justru sebaliknya. Setelah melewati masa pemulihan, sebagian besar pasien dianjurkan untuk kembali aktif bergerak dan rutin berolahraga. Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu menjaga kesehatan jantung, mengontrol tekanan darah, dan meningkatkan kualitas hidup. Tentu saja, jenis serta intensitas olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi Anda dan sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.
  • Apakah stent harus diganti secara berkala?
    Tidak perlu. Stent dirancang untuk tetap berada di dalam pembuluh darah secara permanen dan umumnya tidak perlu diganti. Namun, pada sebagian kecil kasus dapat terjadi penyempitan kembali di area yang sama atau muncul sumbatan di pembuluh darah lain. Jika hal itu terjadi, dokter akan mengevaluasi dan menentukan apakah diperlukan tindakan tambahan.
  • Apa bedanya stent jantung dan ring jantung?
    Sebenarnya tidak ada bedanya. Stent jantung dan ring jantung adalah alat yang sama. Istilah "ring jantung" lebih sering digunakan oleh masyarakat karena bentuk stent menyerupai jaring atau cincin kecil yang dipasang untuk membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka sehingga aliran darah ke jantung menjadi lebih lancar.
  • Coronary angioplasty and stent insertion - NHS
  • Coronary angioplasty and stents - Mayo Clinic
  • Angioplasty: Procedure, Types & Recovery - Cleveland Clinic
  • Angioplasty and Stent Placement for the Heart - Johns Hopkins Medicine

Artikel Lainnya

Pemeriksaan Holter Monitoring untuk Jantung: Fungsi, Cara Kerja, dan Biayanya

Jika Anda sering merasakan jantung berdebar, pusing tanpa sebab yang jelas, atau sesak napas yang datang dan pergi, dokter mungkin akan menyarankan holter monitoring. Pemeriksaan ini membantu merekam aktivitas listrik jantung selama 24 jam atau lebih untuk menemukan gangguan yang mungkin tidak terlihat saat pemeriksaan EKG biasa. Banyak gangguan irama jantung hanya muncul sesekali. Karena […]
31/08/2026

Pacemaker Jantung: Fungsi, Cara Kerja, dan Kapan Anda Membutuhkannya

Pacemaker jantung dibutuhkan ketika sistem kelistrikan alami jantung tidak lagi mampu menjaga detak jantung tetap normal. Jika detak jantung terlalu lambat, sering berhenti sesaat, atau tidak mampu menyesuaikan diri saat Anda beraktivitas, pacemaker dapat membantu mengambil alih tugas tersebut dengan mengirimkan impuls listrik kecil agar jantung tetap berdetak secara teratur. Meskipun terdengar menakutkan, pacemaker modern […]
31/08/2026

Angiografi Koroner: Prosedur, Manfaat, dan Hal Penting yang Perlu Anda Ketahui

Angiografi koroner adalah pemeriksaan yang digunakan untuk melihat apakah ada penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah jantung. Melalui prosedur ini, dokter dapat mengetahui kondisi pembuluh darah koroner secara lebih jelas dan menentukan langkah penanganan yang tepat. Banyak orang merasa cemas saat pertama kali mendengar istilah angiografi koroner. Padahal, prosedur ini cukup umum dilakukan untuk membantu […]
31/08/2026

Ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis yang tepat?

Dengan dokter spesialis berpengalaman, kami siap memberikan penanganan terbaik untuk setiap keluhan dan penyakit yang Anda alami. Jelajahi dokter di rumah sakit kami dan temukan dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Cari Dokter

Halo,
Ada yang bisa
Kami bantu?

Customer Care
crossmenuchevron-down