Logo RS Royal Progress
Menu
Buat Janji Temu
Home Blog Mengenal Preeklamsia: Penyebab Kematian Tertinggi pada Ibu Hamil

Mengenal Preeklamsia: Penyebab Kematian Tertinggi pada Ibu Hamil

28/07/2025

Preeklamsia masih menjadi momok yang menakutkan bagi setiap wanita yang tengah mengandung. Pasalnya, komplikasi kehamilan ini merupakan penyebab kematian lebih dari 70 ribu ibu dan 500 ribu janin tiap tahunnya di seluruh dunia.

Di tanah air, kasus ini juga menjadi perhatian serius karena menjadi penyebab kematian tertinggi pada ibu yang tengah hamil. Meski berbahaya, gangguan ini dapat dicegah apabila terdeteksi sejak awal. Untuk itu, setiap ibu hamil wajib memahami penyebab preeklamsia, gejala, termasuk cara mencegah dan mengobatinya.

Apa Itu Preeklamsia?

Preeklamsia merupakan komplikasi yang timbul pada masa kehamilan dan ditandai dengan sejumlah gejala seperti hipertensi dan proteinuria (urine mengandung protein). Umumnya, gangguan ini muncul setelah usia kandungan 20 minggu.

Jika tidak segera memperoleh penanganan, kondisi ini dapat berbahaya tidak hanya bagi ibu tapi juga janinnya. Keterlambatan penanganan bisa membuat komplikasi ini berkembang menjadi eklamsia yang berisiko fatal, seperti kejang, stroke, koma, kelahiran prematur, hingga ancaman kematian.

Sayangnya, banyak ibu hamil yang tidak menyadari gejala awal preeklamsia dan komplikasi ini dapat memburuk secara tiba-tiba. Oleh sebab itu, tiap ibu hamil wajib melakukan periksa kehamilan secara berkala guna mendeteksi adanya gejala preeklamsia sejak dini.

Penyebab Preeklamsia

Hingga kini, penyebab utama dari preeklamsia dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Tapi, para ahli sepakat bahwa masalah utama berasal dari plasenta.

Di masa awal kehamilan, pembuluh darah baru terbentuk guna memberikan pasokan oksigen dan juga nutrisi ke janin melalui plasenta. Tapi, pada ibu yang menderita preeklamsia, pembuluh darah ini tidak berfungsi atau bahkan tidak berkembang. Akibatnya, terjadi masalah peredaran darah sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi.

Selain masalah pada pembuluh darah ini, ada sejumlah kondisi yang turut meningkatkan risiko ibu hamil mengalami masalah preeklamsia, seperti:

  • Hamil untuk pertama kalinya
  • Mengalami preeklamsia di kehamilan sebelumnya
  • Hamil bayi kembar
  • Punya riwayat hipertensi sebelum hamil
  • Punya riwayat diabetes sebelum hamil
  • Menderita penyakit ginjal
  • Menderita gangguan autoimun seperti lupus
  • Obesitas atau memiliki indeks massa tubuh lebih dari 35
  • Ada keluarga yang mengalami preeklamsia
  • Berusia lebih dari 35 tahun saat hamil
  • Jarak lebih dari 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

Apabila Anda mengalami lebih dari dua faktor risiko di atas, kemungkinan Anda untuk menderita preeklamsia akan jauh lebih besar.

Gejala Preeklamsia

Mayoritas ibu yang tengah hamil mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengalami preeklamsia karena mereka tidak merasakan gejala apa pun. Atau, mungkin mereka mengabaikan sejumlah gejala yang muncul. Kondisi ini umumnya terdeteksi ketika mereka melakukan periksa hamil.

Cek Tekanan Darah saat Kehamilan
Cek Tekanan Darah saat Kehamilan

Gejala awal biasanya adalah tekanan darah tiba-tiba meningkat tidak seperti biasanya dan munculnya bengkak di bagian tubuh tertentu. Selain itu, pada saat melakukan cek laboratorium, akan ditemukan kandungan protein pada urine.

Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk melakukan check lab pada trimester 2 dan 3 guna mendeteksi ciri-ciri preeklamsia yang timbul. Menurut gejala yang timbul dan juga tingkat keparahan, preeklamsia dapat dibedakan jadi dua yakni ringan dan berat.

Inilah sejumlah tanda-tanda yang muncul.

Preeklamsia Ringan

Inilah sejumlah gejala yang mungkin Anda rasakan saat mengalami preeklamsia ringan:

  • Hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan angka yang lebih tinggi dari biasanya. Umumnya, tekanan darah Anda ada di angka 140/90 mmHg sampai 160/11 mmHg.
  • Saat cek urine, ditemukan adanya zat protein +1 atau 0,3 gr.
  • Anda juga biasanya mengalami bengkak pada bagian tangan, kaki, dan juga wajah. Bengkak atau edema ini terjadi akibat penumpukan cairan.
  • Berat badan Anda bertambah secara drastis.

Keluhan ini timbul ketika kehamilan menginjak usia lebih dari 20 minggu.

Preeklamsia Berat

Komplikasi tersebut bisa menjadi semakin parah dan meningkatkan risiko kematian.

Inilah sejumlah tanda saat Anda mengalami preeklamsia berat:

  • Tekanan darah semakin tinggi bahkan mencapai angka di atas 160/110 mmHg.
  • Edema paru atau menumpuknya cairan pada paru-paru.
  • Menurunnya fungsi hati dan ginjal.
  • Trombositopenia atau menurunnya kadar trombosit dalam darah.
  • Menurunnya jumlah urine atau bahkan tidak buang air kecil sama sekali.
  • Kadar protein dalam air kencing meningkat hingga 3 gr per liter.
  • Nyeri pada bagian ulu hati
  • Pendarahan pada mata.
  • Gangguan pada penglihatan.

Ketika preeklamsia yang Anda derita sudah dalam tingkatan yang parah, Anda akan dirujuk ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan observasi yang lebih lanjut. Dalam banyak kasus, ibu hamil umumnya akan disarankan untuk segera melahirkan bayinya guna mencegah komplikasi yang lebih parah.

Cara Mengobati Preeklamsia

Dokter akan menentukan metode penanganan preeklamsia berdasarkan tingkat keparahan gejala yang Anda alami.

Inilah beberapa langkah yang umumnya akan diambil:

1. Mengubah Gaya Hidup

Untuk preeklamsia ringan, dokter akan menyarankan rawat jalan. Selain itu, Anda juga perlu mengubah gaya hidup Anda misalnya dengan melakukan diet khusus dan membatasi asupan garam guna menstabilkan tekanan darah.

2. Rawat Inap

Apabila tekanan darah Anda tak kunjung menurun dalam kurun waktu 2 minggu, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk memperoleh penanganan intensif di rumah sakit. Dengan begitu, dokter bisa dengan mudah melakukan observasi kondisi Anda.

3. Pemberian Obat

Apabila preeklamsia semakin parah dan tekanan darah Anda melebihi 160/110, dokter akan meresepkan obat anti hipertensi. Jika ada indikasi kejang dan tanda-tanda stroke, dokter akan memberikan obat antikonvulsan seperti magnesium sulfat.

4. Persalinan

Satu-satunya cara pengobatan paling ampuh dalam menangani preeklamsia adalah dengan melahirkan bayi. Dokter akan merekomendasikan langkah ini ketika usia kehamilan Anda telah mencapai 37 atau 38 minggu.

Apabila kehamilan Anda masih terlalu dini, dokter akan terus memantau ketat kondisi Anda dan mempertahankan kehamilan. Tapi, untuk kasus yang telah parah, proses kelahiran ini akan dilakukan lebih awal guna menyelamatkan ibu dan bayi yang dikandungnya.

Dalam beberapa kasus, seorang ibu bisa mengalami preeklamsia setelah melahirkan. Oleh sebab itu, meski bayi telah lahir, ibu harus tetap dipantau kondisinya mulai 2 hari sampai 6 minggu setelah proses persalinan. Apabila tidak memperoleh penanganan, preeklamsia pascapersalinan ini dapat mengakibatkan kejang, stroke, dan komplikasi lain.

Cara Mencegah Preeklamsia

Sebenarnya tidak ada cara pasti dalam pencegahan preeklamsia karena penyebab komplikasi ini belum diketahui dengan pasti. Namun, risiko terjadinya preeklamsia dapat Anda cegah dengan mengontrol tekanan darah.

Sejumlah tips dalam mencegah terjadinya komplikasi dalam kehamilan Anda yaitu:

  • Minumlah 6 sampai 8 gelas air per hari
  • Hindari gorengan dan juga makanan cepat saji
  • Batasi asupan garam
  • Istirahat yang cukup
  • Berolahraga secara teratur
  • Hindari minuman yang mengandung kafein
  • Angkat kaki dan posisikan lebih tinggi beberapa kali dalam sehari

Preeklamsia memang menakutkan. Tapi dengan pengetahuan dan pemeriksaan rutin, kondisi ini dapat terdeteksi dan ditangani sebelum menimbulkan komplikasi yang berbahaya.

Jangan pernah menganggap remeh gejala apa pun yang Anda rasakan. Ada ataupun tidak ada keluhan, Anda tetap harus periksa dengan rutin guna memantau kondisi kehamilan Anda.

Guna mendeteksi adanya risiko preeklamsia, lakukanlah pemeriksaan kehamilan di Rumah Sakit Royal Progress. Dapatkan penanganan langsung dari dokter spesialis kandungan dan kebidanan yang berpengalaman. Jadwalkan janji temu Anda sekarang juga melalui website resmi RS Royal Progress.

  • Preeclampsia, Genomics and Public Health - Blogs - CDC
  • Peringatan Hari Preeklamsia Sedunia 2021 - Ayo Sehat - Kementerian Kesehatan RI
  • Preeclampsia - Symptoms & causes - Mayo Clinic
  • Preeclampsia: Toxemia, Causes, Symptoms & Risk Factors - Cleveland Clinic
  • Pre-eclampsia - NHS
  • Postpartum Preeclampsia: Causes, Symptoms & Treatment - Cleveland Clinic
  • Preeclampsia During Pregnancy - American Pregnancy Association

Artikel Lainnya

Sering Diabaikan, 7 Gejala Campak Ini Bisa Memicu Komplikasi Serius

Kasus campak di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, bahkan tercatat 8.224 suspek dengan 572 kasus terkonfirmasi hingga awal tahun 2026. Keadaan tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala campak awal yang sering dianggap menyerupai flu biasa. Campak bukan hanya menyebabkan ruam kemerahan pada kulit, tetapi juga dapat memengaruhi saluran pernapasan hingga kondisi tubuh secara keseluruhan. […]
20/05/2026

Stunting Adalah Ancaman, Ini Penjelasan Lengkapnya

Pernah melihat anak-anak yang lebih pendek dibandingkan teman sebayanya? Kondisi tersebut bisa jadi tanda stunting. Berdasarkan laporan United Nation Children's Fund (UNICEF), Indonesia hingga kini masih menghadapi tantangan serius terkait stunting dan defisiensi zat gizi mikro. Banyak orang mengira stunting hanya berkaitan dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai usianya. Padahal, stunting memiliki dampak yang […]
12/03/2026

Anak Terlalu Kurus atau Gemuk? Ini Cara Menilai Berat Badan Ideal Sesuai Umur Anak

Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat anaknya terlihat lebih kurus atau lebih gemuk dibandingkan teman seusianya. Namun, menilai berat badan ideal sesuai umur anak tentu tidak bisa hanya didasari tampilan fisiknya saja. Penilaian haruslah mengacu pada grafik pertumbuhan dan evaluasi medis yang tepat. Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and […]
09/03/2026

Ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis yang tepat?

Dengan dokter spesialis berpengalaman, kami siap memberikan penanganan terbaik untuk setiap keluhan dan penyakit yang Anda alami. Jelajahi dokter di rumah sakit kami dan temukan dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Cari Dokter

Halo,
Ada yang bisa
Kami bantu?

Customer Care
crossmenuchevron-down