Nyeri punggung bawah yang menetap, kaku, dan kadang menjalar ke kaki sering dianggap kelelahan biasa. Padahal keluhan ini bisa menjadi tanda bahwa susunan tulang belakang Anda telah berubah. Salah satu penyebabnya adalah spondilolistesis, yaitu kondisi ketika satu ruas tulang belakang bergeser ke depan dari posisi seharusnya. Pergeseran ini tidak selalu berbahaya, tetapi pada sebagian orang dapat menekan saraf dan menimbulkan gangguan serius. Artikel ini membahas penyebab, gejala, cara diagnosis, dan pilihan pengobatan spondilolistesis.
Spondilolistesis adalah kondisi ketika satu tulang belakang (vertebra) bergeser ke depan terhadap tulang di bawahnya. Tulang belakang tersusun dari rangkaian ruas yang ditopang cakram (disk) dan sendi kecil di bagian belakang. Ketika penopang ini melemah atau rusak, satu ruas dapat meluncur ke depan sehingga susunannya tidak lagi sejajar.
Sebagian penderita tidak merasakan keluhan apa pun dan kondisi ini hanya ditemukan secara kebetulan saat rontgen. Sebagian lainnya merasakan nyeri punggung bawah yang mengganggu aktivitas, terutama saat berdiri lama atau berjalan. Pada kasus berat, saraf yang terjepit dapat menyebabkan nyeri menjalar, kesemutan, bahkan kelemahan kaki.
Pergeseran tulang belakang juga dapat menyempitkan saluran saraf. Karena itu, nyeri punggung berulang sebaiknya tidak diabaikan.
Kedua istilah ini sering tertukar karena namanya hampir sama. Spondylolysis adalah retak atau celah pada pars interarticularis, bagian tulang kecil di belakang ruas tulang belakang yang menghubungkan sendi atas dan bawah. Retak ini umumnya terbentuk akibat tekanan berulang, bukan satu benturan keras sekaligus.
Spondylolysis bisa dialami sejak usia dini. Diperkirakan sekitar 5% anak sudah mengalaminya sejak usia 6 tahun, dan sebagian besar baru terdeteksi ketika mereka mengeluh nyeri punggung saat berolahraga.
Ketika retak pada pars interarticularis melemahkan sambungan ruas, tulang kehilangan sebagian penopangnya dan dapat bergeser ke depan. Saat itulah spondylolysis berkembang menjadi spondylolisthesis, ejaan internasional dari spondilolistesis. Spondylolysis adalah kerusakan awal pada tulang, sedangkan spondilolistesis adalah pergeseran yang terjadi akibat kerusakan tersebut.
Berdasarkan penyebabnya, spondilolistesis dibagi menjadi beberapa jenis dengan pendekatan penanganan yang berbeda.
Jenis paling sering pada anak, remaja, dan atlet muda. Penyebabnya retak pada pars interarticularis akibat beban berulang pada punggung bawah.
Terjadi pada orang dewasa, terutama usia lanjut, akibat penuaan sendi dan cakram. Paling sering muncul pada ruas lumbar bagian bawah.
Disebabkan cedera akut, misalnya patah tulang belakang akibat kecelakaan atau jatuh.
Terkait kelainan bawaan pada bentuk tulang belakang sehingga sambungan antaruas tidak normal sejak lahir.
Terjadi ketika penyakit tertentu melemahkan struktur tulang, misalnya tumor atau infeksi.
Derajat pergeseran juga menentukan berat ringannya kondisi, diukur dari persentase luas ruas yang bergeser:
Grade I dan II umumnya masih dapat ditangani tanpa operasi, sedangkan grade yang lebih tinggi lebih berisiko menekan saraf sehingga pembedahan sering dipertimbangkan.
Penyebab spondilolistesis berbeda menurut usia. Pada anak dan remaja, penyebab tersering adalah beban berulang yang memicu retak stres. Pada orang dewasa, penyebab utamanya adalah penuaan yang mengikis kekuatan sendi dan cakram. Faktor yang meningkatkan risiko antara lain:
Banyak penderita tidak merasakan gejala sama sekali. Ketika muncul, keluhan biasanya berkembang perlahan dan makin terasa setelah aktivitas fisik. Gejala yang paling sering dilaporkan:
Nyeri umumnya membaik saat berbaring dan memburuk ketika berdiri atau berjalan. Jika nyeri menjalar makin hebat atau muncul kelemahan kaki, keluhan ini perlu dievaluasi dokter, terutama bila disertai tanda gangguan saraf.
Nyeri punggung bawah umumnya membaik dalam beberapa minggu dengan istirahat. Namun ada sejumlah tanda bahaya yang menuntut pemeriksaan segera:
Kombinasi kelemahan tungkai dan gangguan buang air besar atau kecil dapat menandakan sindrom cauda equina, yaitu penekanan kumpulan saraf di ujung saluran tulang belakang. Ini merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secepat mungkin untuk mencegah kerusakan saraf permanen.
Diagnosis dimulai dari wawancara riwayat keluhan dan cedera, lalu pemeriksaan fisik. Dokter menilai postur, rentang gerak, kekuatan otot, refleks, dan sensasi tungkai untuk mengetahui apakah ada saraf yang tertekan. Untuk memastikan pergeseran, beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan:
Sebagian besar kasus ringan, khususnya grade I dan II, ditangani tanpa operasi. Tujuannya meredakan nyeri, memulihkan fungsi, dan mencegah pergeseran berlanjut. Pilihan yang umum dilakukan:
Perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan ideal, memperbaiki posisi duduk, dan menghindari mengangkat beban berat juga berperan besar dalam keberhasilan penanganan.
Operasi tidak dilakukan pada semua penderita. Tindakan bedah dipertimbangkan bila terdapat penekanan saraf dengan nyeri menjalar atau kelemahan tungkai, pergeseran yang terus bertambah, atau keluhan yang tidak membaik setelah terapi non-operasi dijalani dengan disiplin.
Pada sindrom cauda equina, operasi menjadi tindakan darurat. Tujuannya meredakan tekanan saraf dan menstabilkan ruas tulang belakang. Beberapa teknik yang dapat digunakan:
Seperti tindakan bedah lainnya, operasi tulang belakang memiliki risiko, antara lain infeksi, perdarahan, gangguan saraf, nyeri menetap, serta keausan lebih cepat pada ruas di atas atau di bawah fusi. Tingkat keberhasilan berbeda pada setiap penderita dan dipengaruhi usia, derajat pergeseran, kondisi saraf, serta kepatuhan menjalani pemulihan. Karena itu, keputusan operasi perlu diambil setelah diskusi menyeluruh mengenai manfaat dan risikonya.
Pada sebagian kasus, terutama pada anak, remaja, dan atlet muda, risiko dapat dikurangi dengan meminimalkan beban berulang pada punggung bawah:
Jika Anda mengalami nyeri punggung bawah yang menetap, kaku, atau nyeri yang menjalar ke kaki, jangan menunggu keluhan bertambah berat. Penanganan spondilolistesis yang tepat waktu dapat membantu mencegah pergeseran berlanjut dan kerusakan saraf yang lebih serius.
RS Royal Progress memiliki Royal Spine & Pain Intervention Centre, layanan terpadu untuk diagnosis dan penanganan gangguan tulang belakang serta nyeri, didukung Integrated Orthopedic Centre untuk bedah ortopedi dan traumatologi serta Royal Sports untuk penanganan cedera olahraga. Tim dokter spesialis akan melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari pemeriksaan fisik dan penunjang, terapi non-operasi, tindakan intervensi nyeri, hingga pembedahan bila diperlukan. Untuk membuat janji temu, kunjungi halaman Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RS Royal Progress.

