Osteoporosis adalah kondisi tulang yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Artikel ini membahas secara lengkap tentang pengertian, gejala, penyebab, cara mencegah dan mengobati osteoporosis. Osteoporosis penting untuk diketahui karena banyak orang baru menyadari penyakit ini setelah mengalami patah tulang atau perubahan bentuk tubuh seperti bungkuk. Dengan memahami isinya, Anda dapat menjaga kesehatan tulang sejak dini dan mengurangi risiko pengeroposan tulang.
Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan tulang menjadi keropos, lemah, dan mudah patah. Dalam istilah medis, osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan tulang menurun akibat berkurangnya massa tulang dan mineral yang membentuknya.
Proses pengeroposan tulang ini bisa berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga sering kali penderita osteoporosis umumnya baru menyadari penyakitnya setelah terjadi patah tulang akibat benturan ringan, terutama di panggul, pergelangan tangan, atau tulang belakang. Tulang yang sehat memang seharusnya mampu menahan beban tubuh, tetapi pada pasien osteoporosis kekuatan tulang menurun drastis sehingga mudah patah bahkan karena terjatuh singkat.
Penyebab osteoporosis beragam, tetapi umumnya disebabkan oleh:
Faktor genetik juga turut berperan. Jika salah satu anggota keluarga mengalami pengeroposan tulang, peluang terkena osteoporosis lebih besar.
Meskipun osteoporosis tidak memiliki gejala yang spesifik pada awalnya, kondisi ini dapat menimbulkan gejala ketika tulang mulai mengalami kerusakan serius. Gejala osteoporosis dapat berupa :
Dengan mengenali gejala awal, tentu saja seseorang dapat segera melakukan pemeriksaan kepadatan tulang untuk mencegah risiko patah tulang yang lebih berbahaya.
Diagnosis osteoporosis biasanya dilakukan dokter melalui pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan tes penunjang seperti pengukuran kepadatan tulang.
Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan tingkat pengeroposan tulang dan risiko patah tulang di masa depan. Pada pasien yang berisiko tinggi, pemeriksaan berkala diperlukan terutama bagi lansia, wanita menopause, atau orang dengan riwayat keluarga osteoporosis.
Mengetahui diagnosis osteoporosis lebih awal memungkinkan pengobatan osteoporosis dimulai sebelum kerusakan tulang parah.
Pengobatan osteoporosis bertujuan memperlambat pengeroposan tulang, meningkatkan massa tulang, serta mencegah patah tulang akibat. Dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti bisfosfonat atau selective estrogen receptor modulators (SERM) untuk memperkuat tulang dan menstabilkan massa tulang.
Selain pengobatan medis, suplemen kalsium dan vitamin D sering direkomendasikan untuk menjaga kepadatan tulang. Vitamin D bisa membantu penyerapan kalsium pada usus dan meningkatkan kualitas pembentukan tulang baru. Pada kasus berat, terapi hormon dapat diberikan untuk mengatur kadar hormon estrogen pada wanita atau testosteron pada pria.
Pendekatan terbaru seperti terapi stem cell juga mulai diteliti karena potensi dalam membantu regenerasi dan pembentukan tulang baru. Dengan kombinasi pengobatan osteoporosis, pola makan seimbang, dan olahraga teratur, kekuatan tulang dapat dipertahankan lebih optimal.
Di Indonesia, penggunaan terapi stem cell untuk masalah tulang, sendi, dan kondisi ortopedi (termasuk osteoporosis) diatur secara khusus oleh Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1359/2024 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terapi Sel Punca di Bidang Orthopaedi dan Traumatologi.
Terapi stem cell (sel punca) untuk osteoporosis bertujuan membantu memperbaiki tulang yang keropos dengan memanfaatkan kemampuan sel punca membentuk jaringan baru dan mendukung pembentukan tulang. Sel-sel ini berpotensi meningkatkan massa tulang, memperbaiki struktur tulang, dan mengurangi risiko tulang menjadi rapuh pada penderita osteoporosis.
Pencegahan osteoporosis berfokus pada menjaga kesehatan tulang sejak usia muda. Beberapa pencegahannya antara lain:
Mencegah osteoporosis juga berarti menjaga keseimbangan nutrisi dan memperhatikan berat badan.
Setiap orang berisiko terkena osteoporosis, terutama wanita menopause dan pria berusia di atas 60 tahun. Segera konsultasikan ke dokter spesialis ortopedi dan traumatologi jika mengalami nyeri tulang berkepanjangan, postur tubuh mulai bungkuk, atau pernah mengalami patah tulang akibat jatuh ringan. Diagnosis tepat waktu dapat mencegah kerusakan tulang yang lebih parah dan mempercepat pengobatan osteoporosis.
Baca Juga:
Untuk menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis sejak dini, segera lakukan pemeriksaan dan konsultasi bersama dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di RS Royal Progress. Dapatkan penanganan profesional agar tulang tetap kuat dan aktif di setiap tahap usia.
Tidak. Paling sering pada lansia, tetapi orang muda dengan faktor risiko (kurang kalsium dan vitamin D, jarang bergerak, riwayat patah tulang, obat steroid lama) juga bisa mengalaminya.
Tidak. Nyeri tulang bisa dari otot, sendi, atau cedera. Osteoporosis sering tanpa keluhan dan baru terdeteksi saat terjadi patah tulang atau tubuh mulai bungkuk.
Tidak sepenuhnya, tetapi bisa dikendalikan. Obat, kalsium, vitamin D, dan perubahan gaya hidup dapat memperlambat kerusakan dan menurunkan risiko patah tulang.
Osteopenia adalah penurunan kepadatan tulang ringan, satu tahap sebelum osteoporosis. Jika tidak dijaga, osteopenia bisa berkembang menjadi osteoporosis.
Tidak selalu. Namun patah tulang belakang berulang bisa membuat tulang punggung turun dan postur menjadi bungkuk serta tinggi badan berkurang.
