Pernah melihat postur tubuh yang tampak membungkuk dan mengira itu hanya kebiasaan duduk yang buruk? Padahal, tidak selalu demikian, dapat jadi itu merupakan masalah medis, yaitu kifosis. Lalu, apa penyebab kifosis? Faktor penyebabnya sangat bervariasi, mulai dari kebiasaan postur tubuh sehari-hari hingga kondisi medis tertentu yang berdampak pada tulang belakang. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut!
Kifosis adalah kondisi di mana tulang belakang bagian atas melengkung secara ekstrem, yang menciptakan tampilan punggung membungkuk jika dilihat dari samping.
Berbeda dengan tulang belakang sehat yang tampak tegak lurus dari belakang, kifosis menyebabkan ruas tulang punggung atas melengkung ke arah depan secara berlebihan. Tekanan lengkungan inilah yang mengubah postur tubuh menjadi bungkuk.
Secara medis, kifosis ditentukan berdasarkan derajat kelengkungan tulang belakang. Pada kondisi normal, lengkungan alami di punggung atas biasanya berada pada kisaran 20–45 derajat.
Seseorang dapat didiagnosis mengalami kifosis jika kelengkungan tersebut mencapai sekitar 50 derajat atau lebih. Diagnosis ini dapat diketahui melalui pemeriksaan pencitraan seperti sinar-X.
Meskipun sering dianggap hanya masalah postur, pada beberapa kasus kifosis dapat menimbulkan keluhan. Keluhan tersebut seperti nyeri punggung, kekakuan otot, mudah lelah, hingga gangguan pernapasan jika kelengkungan sudah cukup berat.
Banyak yang bertanya, apa penyebab terjadinya kifosis? Jawabannya sangat bergantung pada jenis yang dialami.

Berikut jenis-jenisnya.
Sebagai jenis kifosis yang paling umum, kifosis postural ditandai dengan kelengkungan punggung atas yang ekstrem. Namun, kondisi ini tanpa disertai perubahan bentuk tulang. Karena ruas-ruas tulang belakangnya masih berbentuk kotak sempurna (normal), kondisi ini jauh lebih lentur untuk diperbaiki.
Jenis kedua ini terjadi karena ruas tulang belakang (vertebrae) tumbuh dengan bentuk menyerupai baji (segitiga) dan bukan kotak normal. Kondisi ini lebih kaku (rigid) dibandingkan tipe postural dan cenderung memburuk seiring masa pertumbuhan.
Dan data statistik menunjukkan kifosis Scheuermann menyerang sekitar 0,4% populasi, dengan jumlah kasus yang hampir seimbang pada pria dan wanita.
Diagnosis ini mengasumsikan adanya perbedaan bentuk pada satu atau lebih ruas tulang belakang yang sudah ada sejak lahir. Kelainan ini menjadi salah satu penyebab kifosis pada anak di mana sejak bayi sudah terlihat memiliki lengkungan punggung ke arah luar.
Kelengkungan ini biasanya akan menjadi jauh lebih nyata seiring dengan bertambahnya usia dan masa pertumbuhan anak.
Untuk memahami lebih dalam mengenai apa penyebab badan bungkuk, kita perlu melihat faktor risiko yang berbeda-beda di setiap tahapan usia.
Kifosis pada remaja, biasanya berkaitan dengan Postural Kyphosis akibat posisi duduk yang salah saat belajar di sekolah atau penggunaan gawai yang terlalu lama dengan posisi menunduk.
Untuk memahami lebih dalam mengenai badan bungkuk karena kifosis, kita perlu melihat bagaimana perubahan struktur pada ruas tulang belakang dapat memicu kelengkungan yang tidak normal.
Penyebab kifosis umumnya melibatkan kondisi-kondisi berikut:
Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah kaitan antara penyebab kifosis dan cara mencegahnya melalui gaya hidup sehat:
Jika kelengkungan sudah terbentuk, tenaga medis akan mengidentifikasi penyebab kifosis dan cara mengatasinya dengan mempertimbangkan tingkat keparahan, usia pasien, serta kondisi tulang belakang secara menyeluruh.
Untuk kasus kifosis postural yang fleksibel atau peningkatan kelengkungan yang ringan, dokter biasanya menyarankan latihan fisik atau fisioterapi. Program latihan harian di rumah yang berfokus pada penguatan otot inti (core) serta peregangan dan penguatan otot ekstensor punggung terbukti sukses memperbaiki penampilan postur dan meredakan nyeri.
Pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dengan kelengkungan lebih dari 65 derajat, dokter umumnya merekomendasikan penggunaan brace khusus. Misalnya Milwaukee brace, untuk membantu mengontrol progresivitas kelengkungan. Biasanya, penyangga ini perlu digunakan selama 23 jam sehari hingga masa pertumbuhan tulang remaja selesai.
Jika kifosis sudah masuk kategori parah, menimbulkan nyeri hebat, atau mengganggu penampilan secara signifikan, prosedur bedah posterior spinal fusion dapat menjadi opsi.
Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan di tengah punggung untuk memasang sekrup titanium pada bagian pedikel tulang belakang. Selama operasi berlangsung, dokter menggunakan panduan sinar-X (fluoroscopy) dan pemantauan saraf secara real-time oleh neurofisiologis untuk menjamin keamanan saraf tulang belakang.
Setelah posisi sekrup terpasang, dokter akan mengoreksi lengkungan menggunakan batang logam (rods) berbahan cobalt chrome dan melakukan fusi tulang menggunakan cangkok tulang pasien sendiri.
Setelah operasi ini, umumnya pasien umumnya perlu menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar 4–5 hari. Kemudian melanjutkan masa pemulihan di rumah sekitar 4 sampai 6 minggu hingga luka jahitan dalam benar-benar menyatu dan pulih sempurna.
Jika Anda atau anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda kelengkungan tulang belakang yang tidak wajar, jangan menunda pemeriksaan. Diagnosis dini adalah kunci keberhasilan terapi tanpa harus selalu melalui tindakan bedah yang kompleks.
Segera jadwalkan konsultasi di Rumah Sakit Royal Progress, karena kami memiliki tim dokter spesialis ortopedi ahli tulang belakang dan fasilitas rehabilitasi medik komprehensif untuk menangani berbagai penyebab kifosis secara tepat dan profesional.
Baca Juga:
