Pernah mengalami benjolan mirip bisul yang berisi nanah pecah? Kondisi abses perianal pecah sendiri sering dianggap bakal segera sembuh karena rasa nyeri berkurang setelah bisul meletus. Padahal, kondisi ini perlu perhatian serius karena bisa menimbulkan komplikasi lanjutan jika tidak ditangani dengan tepat.
Mari kita pahami bersama apa itu abses perianal, penyebabnya, hingga penanganan yang tepat agar tidak salah langkah dalam mengatasinya.
Abses perianal adalah benjolan mirip bisul yang berisi nanah dan muncul di sekitar anus, rektum, atau area perineum (daerah antara alat kelamin dan anus). Kondisi ini terjadi ketika salah satu kelenjar kecil di anus tersumbat dan terinfeksi.

Akibatnya, nanah dan cairan menumpuk sehingga terbentuk abses yang biasanya terasa sangat nyeri.
Anus sendiri merupakan bagian akhir dari sistem pencernaan, berupa saluran sepanjang sekitar 5 cm yang terdiri dari otot dasar panggul dan dua sfingter (otot yang mengatur keluarnya feses). Di dalamnya terdapat banyak kelenjar penghasil lendir.
Jika salah satu kelenjar ini tersumbat, bakteri dapat berkembang dan menyebabkan infeksi yang berujung pada abses.
Dalam beberapa kasus, abses ini dapat pecah sendiri, terutama jika berada di area yang terkena gesekan tinja yang melewati rektum dan anus. Selain itu abses juga bisa pecah akibat peningkatan tekanan dari dalam, yaitu tekanan nanah yang meningkat di dalamnya.
Lalu berapa lama abses perianal pecah sendiri? Jangka waktunya bervariasi pada setiap orang dan tidak dapat dipastikan, tergantung ukuran dan tingkat infeksi.
Ketika abses pecah, nanah akan keluar melalui kulit, dan rasa nyeri biasanya berkurang sementara. Namun, kondisi ini bukan berarti infeksi telah sembuh sepenuhnya.
Justru, setelah abses pecah, sering terbentuk saluran kecil yang disebut fistula ani, yaitu jalur abnormal antara kelenjar anus dan kulit di sekitarnya. Fistula ini dapat menyebabkan keluarnya cairan terus-menerus dan berisiko menimbulkan abses berulang.
Inilah mengapa abses perianal walaupun sudah pecah tetap membutuhkan penanganan medis agar tidak berkembang menjadi masalah kronis. Misalnya saja dengan pembedahan atau tindakan drainase, yaitu dokter membuat sayatan pada abses untuk mengeluarkan nanah dan mengatasi sumber infeksi.
Untuk Anda yang awam mungkin bingung membedakan antara abses perianal dan wasir/ambeien. Pasalnya keduanya muncul di area yang sama dengan gejala yang hampir sama terutama terasa nyeri, gatal, dan sensitif saat disentuh. Namun, keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda.
Tidak seperti abses, wasir bukanlah infeksi, melainkan kondisi pembengkakan pada pembuluh darah mirip dengan varises.
Lalu bagaimana cara mengetahui apakah Anda menderita abses atau wasir?
Abses perianal akan terasa lebih menonjol, dapat berisi cairan/nanah, dan hangat serta nyeri saat disentuh. Sementara wasir terlihat sebagai benjolan lunak yang kadang berwarna kebiruan atau keunguan, terutama jika terjadi pembengkakan.
Karena wasir bukan infeksi, wasir juga tidak menyebabkan demam dan menggigil seperti abses. Terakhir, penanganan medis kedua kondisi gangguan kesehatan tersebut juga berbeda.
Baca Juga:
Abses perianal sebenarnya cukup sering terjadi, namun banyak kasus tidak terdeteksi karena pasien menganggapnya sebagai wasir biasa. Kondisi ini umumnya terjadi pada usia sekitar 40 tahun dan pria berisiko mengalami abses perianal dua kali lebih besar daripada wanita. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya abses antara lain:
Berikut beberapa penyebab umum abses perianal:
Sementara gejala yang bisa muncul ketika kondisi tersebut berlangsung adalah:
Penanganan abses perianal bergantung pada tingkat keparahan dan kondisi pasien. Dalam beberapa kasus, terutama setelah tindakan medis seperti drainase (pengeluaran nanah), dokter akan merekomendasikan obat-obatan berikut:
Selain mengonsumsi obat-obatan di atas, berendam dalam air hangat beberapa kali sehari dapat membantu meredakan nyeri, menjaga kebersihan, dan mempercepat penyembuhan.
Perlu diingat, obat-obatan ini hanya membantu meredakan gejala. Risiko kambuh akan tetap ada terutama jika sumber infeksi belum ditangani.
Selain pengobatan, pola makan juga berperan penting dalam proses penyembuhan.
Berikut beberapa makanan yang sebaiknya Anda hindari:
Sebaliknya, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat seperti sayur, buah, dan cukup air putih agar proses pencernaan lebih lancar.
Banyak orang menunda ke dokter karena merasa abses sudah membaik setelah pecah. Padahal, seperti yang telah dijelaskan, kondisi ini bisa berkembang menjadi fistula ani yang tidak dapat sembuh sendiri.
Jika fistula sudah terbentuk, satu-satunya cara efektif untuk mengatasinya adalah melalui tindakan medis atau operasi. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah umum.
Rumah sakit dengan layanan bedah proktologi biasanya memiliki teknologi modern untuk menangani kasus ini dengan lebih nyaman dan minim resiko.
Abses perianal pecah sendiri memang bisa membuat gejala terasa lebih ringan, tetapi bukan berarti masalah sudah selesai. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini berisiko berkembang dan menyebabkan abses berulang yang lebih serius.
Jika Anda mengalami gejala seperti nyeri di sekitar anus dan gejala penyerta lainnya jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis Bedah di RS Royal Progress. Dengan penanganan yang tepat sejak dini, Anda bisa terhindar dari komplikasi dan kembali beraktivitas dengan nyaman.
