Pembicaraan tentang kontrasepsi di Indonesia hampir selalu berpusat pada wanita, mulai dari pil KB, suntik, implan, hingga tubektomi. Padahal pria juga memiliki pilihan kontrasepsi permanen, yaitu vasektomi. Metodenya sederhana, efektif, dan risikonya rendah, namun masih jarang dipilih karena banyak anggapan keliru yang beredar.
Artikel ini membahas vasektomi secara menyeluruh: apa itu vasektomi, bagaimana prosedurnya, efek samping yang mungkin timbul, syarat yang perlu dipenuhi, serta pertimbangan agama yang penting diketahui sebelum mengambil keputusan.
Vasektomi pria adalah prosedur medis untuk mencegah kehamilan dengan cara memotong dan menyegel saluran yang membawa sperma, yaitu vas deferens. Saluran ini berjumlah sepasang dan menghubungkan testis dengan uretra. Setelah saluran tersebut ditutup, sperma yang diproduksi testis tidak lagi dapat mencapai air mani.
Prosedur ini biasanya dilakukan sebagai tindakan rawat jalan dengan anestesi lokal, sehingga pasien tetap sadar selama tindakan berlangsung. Dokter akan membius area skrotum, kemudian mengambil sebagian kecil vas deferens, memotongnya, dan menutup ujungnya dengan cara diikat, dijepit, atau dibakar menggunakan arus listrik. Sebagian dokter menutup luka dengan jahitan, sebagian lagi menggunakan lem khusus atau membiarkan luka menutup sendiri.
Terdapat dua teknik yang umum digunakan. Teknik konvensional membuat satu atau dua sayatan kecil pada skrotum. Teknik tanpa pisau bedah membuat lubang sangat kecil menggunakan alat khusus, tanpa sayatan. Keduanya sama-sama menggunakan anestesi lokal dan memiliki tingkat keberhasilan serupa.
Vasektomi tidak mengangkat testis dan tidak mengubah produksi hormon. Prosedur ini hanya menghentikan jalur keluarnya sperma. Inilah yang membedakannya secara mendasar dari kebiri.
Vasektomi pria, tubektomi, dan kondom sama-sama metode kontrasepsi, tetapi sasarannya dan sifatnya berbeda. Memahami perbedaannya membantu Anda memilih sesuai kebutuhan.
Perlu ditegaskan bahwa vasektomi hanya diperuntukkan bagi pria. Istilah vasektomi perempuan atau vasektomi wanita yang kadang muncul di masyarakat tidak tepat, padanan prosedur untuk wanita adalah tubektomi.
Tindakan ini umumnya berlangsung singkat, sekitar 15 sampai 30 menit, dan pasien dapat pulang pada hari yang sama. Berikut tahapan yang umumnya dilalui:
Selama tindakan, pasien mungkin merasakan tarikan atau sensasi ada yang bergerak, tetapi nyeri tajam umumnya tidak dirasakan. Bila masih terasa tidak nyaman, dokter dapat menambah dosis anestesi.
Setelah tindakan, Anda akan diminta beristirahat total selama sekitar 24 jam. Aktivitas ringan biasanya sudah boleh dilakukan dalam dua sampai tiga hari, tetapi olahraga, angkat beban, dan pekerjaan berat sebaiknya dihindari selama kurang lebih satu minggu. Kompres es pada dua hari pertama dan penggunaan celana penyangga membantu mengurangi bengkak.
Ya, vasektomi harus dianggap sebagai bentuk kontrasepsi permanen. Inilah pertimbangan terpenting sebelum memutuskan. Prosedur ini ditujukan bagi pria yang sudah yakin tidak ingin menambah anak di kemudian hari.
Secara teknis, vasektomi memang dapat dibalik melalui operasi rekanalisasi, yaitu menyambung kembali ujung vas deferens yang telah dipotong. Namun ada beberapa hal yang perlu dipahami dengan jujur:
Karena itu, jangan pernah menjadikan kemungkinan rekanalisasi sebagai alasan utama menjalani vasektomi. Ada beberapa kondisi yang membuat penyesalan lebih mungkin terjadi, misalnya usia di bawah 30 tahun saat menjalani tindakan, belum memiliki anak, pasangan sedang hamil, atau baru mempertimbangkan vasektomi kurang dari satu tahun. Diskusikan hal ini terbuka dengan dokter.
Vasektomi tergolong prosedur berisiko rendah. Sebagian besar pria tidak mengalami efek samping yang berarti, dan komplikasi serius jarang terjadi. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui.
Segera hubungi dokter bila muncul demam, perdarahan yang terus berlanjut, nyeri atau bengkak yang semakin berat, atau kemerahan pada luka.
Satu hal yang sering terlewat: vasektomi tidak melindungi Anda dari infeksi menular seksual. Penggunaan kondom tetap diperlukan bila ada risiko tersebut.
Ini pertanyaan yang paling sering muncul dan jawabannya cukup sederhana. Testis tidak berhenti memproduksi sperma setelah vasektomi. Karena salurannya tertutup, sperma yang terus diproduksi akan diserap kembali oleh tubuh secara alami. Proses ini tidak berbahaya.
Karena sperma hanya menyusun sebagian kecil dari volume air mani, jumlah cairan yang keluar saat ejakulasi umumnya tidak mengalami perubahan yang berarti.
Yang perlu diperhatikan, vasektomi tidak langsung membuat Anda steril. Sperma yang masih tersisa di saluran bisa ikut keluar pada ejakulasi pertama hingga beberapa waktu setelahnya. Karena itu, Anda wajib menggunakan metode kontrasepsi lain sampai dokter memastikan air mani sudah bersih dari sperma.
Pemeriksaan biasanya dilakukan melalui analisis semen sekitar 8 sampai 16 minggu setelah tindakan. Sebelum pemeriksaan itu, dokter umumnya menyarankan ejakulasi sekitar 15 sampai 20 kali agar sisa sperma benar-benar terbuang. Tanpa pemeriksaan ini, keberhasilan vasektomi belum bisa dipastikan.
Vasektomi bukan tindakan yang bisa dilakukan secara sembarangan. Ada sejumlah syarat yang perlu dipenuhi, terutama bila mengikuti layanan program keluarga berencana pemerintah. Syarat tersebut antara lain:
Selain itu, ada kondisi yang membuat seseorang sebaiknya tidak menjalani vasektomi, misalnya masih ragu soal keinginan memiliki anak, memiliki riwayat nyeri testis kronis, atau memiliki gangguan perdarahan. Sampaikan pula bila Anda memiliki alergi terhadap obat anestesi tertentu atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah.
Besaran biaya vasektomi tidak seragam dan dipengaruhi beberapa faktor, seperti teknik yang digunakan, jenis anestesi, fasilitas kesehatan tempat tindakan dilakukan, serta status penjaminan yang Anda miliki.
Di Indonesia, vasektomi juga dikenal sebagai MOP atau Metode Operasi Pria dalam program keluarga berencana nasional. Layanan ini tersedia di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas.
Vasektomi adalah keputusan pribadi yang sebaiknya diambil bersama pasangan, bukan karena tekanan dari pihak lain atau untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Sebelum memutuskan, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis urologi.
Dalam konsultasi, dokter akan menilai riwayat kesehatan Anda, menjelaskan prosedur secara rinci, membahas risiko dan manfaatnya, serta memastikan Anda memahami sifat permanennya. Konsultasi juga menjadi kesempatan untuk mendiskusikan pilihan kontrasepsi lain yang mungkin lebih sesuai dengan kondisi Anda.
Untuk konsultasi seputar urologi, jangan ragu untuk buat janji temu dengan dokter spesialis Urologi di RS Royal Progress yang dapat memberikan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi setiap pasien. Buat janji temu sekarang, lebih mudah melalui website RS Royal Progress.
