Jerawat batu adalah bentuk jerawat yang paling sering meninggalkan bekas dan paling sulit ditangani dengan produk perawatan bebas. Benjolannya keras, nyeri, dan tumbuh jauh di bawah permukaan kulit sehingga tidak dapat dikeluarkan dengan dipencet. Memahami penyebabnya membantu Anda menentukan kapan perlu menemui dokter spesialis kulit.
Artikel ini membahas definisi, perbedaan dengan jerawat biasa, penyebab, pemicu, dan tanda kapan kondisi ini memerlukan penanganan medis.
Jerawat batu adalah sebutan sehari-hari untuk jerawat inflamasi yang menyerang lapisan dalam kulit. Istilah medisnya adalah jerawat nodul dan jerawat kista, atau acne nodulocystica. Keduanya termasuk jerawat berat karena peradangannya berlangsung di dalam dermis dan melibatkan unit pilosebasea, yaitu folikel rambut beserta kelenjar minyak yang menempel padanya.
Karena letaknya dalam, jerawat batu sering lebih mudah dirasakan daripada dilihat. Sebagian baru tampak sebagai tonjolan merah kebiruan setelah beberapa hari, sebagian lagi tidak muncul ke permukaan sama sekali.
Dua istilah ini sering dipakai bergantian, padahal keduanya berbeda. Perbedaan utamanya terletak pada ada atau tidaknya nanah di dalam benjolan.
Keduanya dapat muncul bersamaan pada satu wajah, dan sama-sama berisiko meninggalkan bekas permanen bila dibiarkan.
Rasa nyeri berasal dari peradangan di lapisan kulit lebih dalam, yang kaya pembuluh darah dan ujung saraf. Tekanan benjolan di ruang sempit bawah kulit membuat area sekitarnya ikut sakit, bahkan saat wajah hanya tersentuh.
Perbedaan paling mendasar terletak pada kedalaman peradangan dan risiko bekas yang ditimbulkan.
Jerawat biasa muncul di permukaan kulit sebagai komedo, papul, dan pustul. Komedo adalah pori tersumbat minyak dan sel kulit mati, papul adalah benjolan merah tanpa nanah, sedangkan pustul berujung putih berisi nanah. Ketiganya masih dapat ditangani dengan produk bebas yang mengandung benzoyl peroxide, asam salisilat, atau adapalene.
Jerawat batu bekerja dengan cara berbeda:
Jerawat biasa adalah masalah permukaan yang bisa dikelola mandiri, sedangkan jerawat batu perlu ditangani dokter.
Jerawat batu tidak muncul karena satu sebab tunggal. Prosesnya terjadi ketika beberapa hal bertemu di folikel rambut.
Kelenjar sebasea memproduksi sebum untuk menjaga kelembapan kulit. Ketika produksinya berlebihan, minyak menumpuk di saluran folikel dan mengubah lingkungan di dalamnya sehingga memicu jerawat. Sebum yang tinggi berkaitan erat dengan aktivitas hormon androgen.
Sel kulit mati yang tidak terkelupas normal ikut menumpuk bersama minyak dan membentuk sumbatan. Sumbatan ini menutup jalan keluar sebum sehingga folikel membengkak. Pada jerawat batu, prosesnya berlangsung cukup dalam hingga dinding folikel dapat robek dan peradangan menyebar ke jaringan sekitarnya.
Cutibacterium acnes, sebelumnya Propionibacterium acnes, adalah bakteri yang alami hidup di kulit dan umumnya tidak berbahaya. Di dalam folikel tersumbat, bakteri ini berkembang biak cepat dan memicu reaksi sistem imun. Peradangan itulah yang membuat benjolan membesar, memerah, dan nyeri.
Androgen meningkatkan ukuran kelenjar minyak sekaligus jumlah sebum yang dihasilkan. Karena itu jerawat batu lebih sering muncul ketika kadar hormon berfluktuasi, misalnya pada masa pubertas atau menjelang menstruasi.
Penyebab jerawat batu bersifat biologis, tetapi sejumlah faktor dapat memperberat kemunculannya.
Pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause sama-sama mengubah kadar hormon yang memengaruhi kelenjar minyak. Gangguan keseimbangan hormon juga dapat menimbulkan jerawat batu berulang, terutama di bagian bawah wajah.
Stres tidak menciptakan jerawat batu dari nol, tetapi dapat memperberat jerawat yang sudah ada. Kadar kortisol yang meningkat dan tidur yang kurang mengganggu keseimbangan hormon serta pemulihan kulit.
Sejumlah studi mengaitkan pola makan tinggi gula dan karbohidrat olahan dengan jerawat yang lebih berat. Makanan berindeks glikemik tinggi memicu lonjakan insulin, yang dapat merangsang produksi sebum. Produk olahan susu juga dilaporkan berkaitan dengan jerawat pada sebagian orang.
Produk berbasis minyak, alas bedak tebal, tabir surya berminyak, hingga produk rambut dapat menyumbat pori. Cari label non-comedogenic, yang berarti produk kecil kemungkinannya menyumbat pori. Bersihkan makeup menyeluruh setiap malam.
Beberapa golongan obat dapat memicu jerawat sebagai efek samping, antara lain kortikosteroid, obat antikejang, dan terapi hormon tertentu. Jika jerawat memburuk setelah Anda memulai obat baru, sampaikan hal ini kepada dokter yang meresepkannya.
Lokasi jerawat sering memberi petunjuk tentang pola yang mendasarinya. Pada jerawat batu, dagu dan pipi paling sering dikeluhkan.
Benjolan nyeri di dagu dan sepanjang garis rahang umumnya berkaitan dengan fluktuasi hormon. Jerawat batu di dagu sering muncul mengikuti pola tertentu setiap bulan, terutama menjelang menstruasi. Karena berada di jaringan yang padat, jerawat di area ini sering terasa paling nyeri dan paling lama bertahan.
Jerawat batu di pipi kerap dipicu kontak berulang dengan benda yang menempel di wajah, seperti sarung bantal, helm, ponsel, atau tangan. Kosmetik yang tidak sesuai jenis kulit juga memperberatnya. Pada sebagian orang, pipi adalah area pertama tempat bekas cekung terbentuk karena kulitnya relatif tipis.
Jerawat batu di dahi lebih sering berkaitan dengan produk rambut dan keringat, misalnya pada orang yang rutin memakai penutup kepala. Walaupun sering dianggap ringan, benjolan di dahi tetap berisiko meninggalkan bekas bila peradangannya dalam.
Masa remaja adalah periode paling rentan terhadap jerawat. Hampir seluruh remaja mengalaminya, dan sebagian berkembang menjadi nodul dan kista yang lebih berat.
Saat memasuki pubertas, tubuh menghasilkan androgen dalam jumlah jauh lebih tinggi. Hormon ini merangsang kelenjar minyak bekerja lebih aktif, sehingga kulit remaja lebih berminyak dan mudah tersumbat. Pada masa inilah jerawat hormonal pada remaja muncul, sering menyerang dagu, pipi, dan dahi bersamaan.
Remaja dengan riwayat jerawat berat pada orang tua atau saudara kandung berisiko lebih tinggi. Karena itu penanganan sebaiknya dimulai saat jerawat pertama muncul, bukan ditunggu sampai berat. Langkah penanganan lengkap dibahas pada artikel cara menghilangkan jerawat batu.
Jerawat berat berkaitan dengan penurunan kepercayaan diri, kecemasan, dan peningkatan risiko depresi pada remaja. Karena itu jerawat pada remaja tidak sebaiknya dianggap hal yang akan hilang sendiri. Menangani peradangan sejak dini melindungi kulit sekaligus menjaga kondisi psikologis remaja tersebut.
Jerawat batu yang tidak ditangani tidak sekadar bertahan lama. Peradangan terus-menerus merusak struktur kulit di bawahnya dan menghasilkan bekas yang cenderung menetap.
Bekas cekung terbentuk ketika kulit memproduksi kolagen terlalu sedikit untuk mengisi jaringan yang rusak. Hasilnya berupa lubang kecil dalam, bekas bergelombang, atau cekungan bulat yang membuat kulit tidak rata. Bekas ini tidak hilang dengan pelembap biasa.
Sebaliknya, kolagen yang berlebihan saat menyembuhkan luka membentuk bekas timbul. Bekas hipertrofik muncul di garis rahang dan dada dalam satu hingga dua bulan setelah jerawat mengempis, sedangkan keloid tumbuh lebih besar dari area asalnya dan butuh berbulan-bulan untuk terbentuk. Kulit yang lebih gelap berisiko lebih tinggi.
Bekas kehitaman atau kemerahan yang rata setelah jerawat mengempis disebut hiperpigmentasi pascainflamasi. Kondisi ini dapat memudar seiring waktu, tetapi perjalanannya lambat dan sering meninggalkan kesan kulit tidak merata.
Baca Juga:
Tidak semua jerawat memerlukan rujukan ke dokter spesialis. Namun jerawat batu, dalam jumlah berapa pun, umumnya sudah melewati batas yang dapat ditangani dengan produk bebas.
Segera temui dokter bila jerawat disertai demam, nyeri sendi, atau pembengkakan yang menyebar, maupun bila muncul mendadak dan berat pada usia dewasa. Keluhan seperti ini perlu dievaluasi untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain. Pada remaja, konsultasi dianjurkan bila jerawat mengganggu aktivitas atau menurunkan suasana hati secara menetap.
Di RS Royal Progress, jerawat batu ditangani oleh Royal Dermatology & Aesthetic Centre (RDAC), pusat layanan kulit dan estetika yang menjadi Centre of Excellence rumah sakit. Layanan di RDAC dijalankan dokter spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.DVE) tersertifikasi dengan dukungan teknologi berstandar internasional serta kerja sama lintas spesialisasi bila dibutuhkan.
Pemeriksaan dimulai dengan menilai derajat jerawat, jenis lesi, dan faktor pemicunya, karena penanganan jerawat batu tidak seragam. Modalitas di RDAC meliputi Facial, Chemical Peeling, Laser Biaxis, serta Microdermabrasion atau Oxygeneo untuk memperbaiki tekstur kulit dan bekas jerawat. RDAC berlokasi di Jalan Danau Sunter Utara, Sunter Agung, Jakarta Utara.
Jika Anda mengalami jerawat batu yang nyeri dan berulang, jangan menunggu hingga bekas terbentuk. Konsultasikan kondisi kulit Anda dengan dokter spesialis kami. Informasi layanan dan jadwal konsultasi tersedia di Royal Dermatology & Aesthetic Centre.
