Dalam beberapa pekan terakhir, kasus infeksi virus influenza tipe A meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Pada minggu epidemiologi ke-36 tahun 2026, 86 dari 185 spesimen yang diperiksa positif influenza atau sekitar 46 persen, naik dari kisaran 37 persen pada pekan sebelumnya. Sebagian besar merupakan influenza A, dengan rincian 76 kasus A(H1N1)pdm09, delapan kasus A(H3N2), dan dua kasus influenza B/Victoria. Tingkat aktivitas influenza secara nasional masih tergolong rendah dan situasinya terkendali, tanpa pasien yang dirawat di unit perawatan intensif maupun laporan kematian akibat influenza.
Yang perlu diperhatikan, sekitar 42 persen kasus terjadi pada anak usia 0 sampai 4 tahun, dan sejumlah daerah melaporkan kepadatan kunjungan di instalasi gawat darurat. Kondisi ini menegaskan pentingnya mengenali gejala sejak dini dan mengetahui kapan perlu mencari pertolongan medis.
Influenza atau yang sehari-hari disebut flu adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, yaitu hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Penyebabnya adalah virus influenza tipe A, B, dan C. Di Indonesia, tipe A paling sering menimbulkan flu musiman dan memiliki beberapa subtipe, misalnya H1N1 dan H3N2, yang beredar bergantian dari tahun ke tahun. Karena sifatnya mudah berubah, komposisi vaksin influenza perlu diperbarui berkala.
Flu A tidak sama dengan flu biasa. Flu biasa umumnya berkembang bertahap dalam satu hingga dua hari, dimulai dari hidung tersumbat atau berair dan bersin-bersin, dengan demam ringan atau bahkan tidak ada. Flu A sebaliknya muncul mendadak dan terasa jauh lebih berat, sering digambarkan penderitanya seperti baru saja tertabrak truk karena lemas dan nyeri yang datang sekaligus.
Ciri khas flu A adalah gejalanya datang mendadak. Seseorang yang pagi merasa sehat bisa tiba-tiba demam dan lemas pada sore harinya.
Batuk bisa bertahan lebih lama daripada gejala lainnya, kadang hingga dua minggu meski gejala lain sudah membaik. Sebagian besar orang pulih sendiri dalam sekitar satu minggu tanpa perawatan khusus.
Pada bayi dan balita, gejala dapat disertai keluhan yang tidak selalu muncul pada orang dewasa, seperti mual, muntah, dan diare. Anak juga sering tampak jauh lebih rewel, enggan menyusu atau makan, serta lebih mudah lelah. Karena itulah pemantauan pada anak perlu lebih cermat.
Gejala mulai muncul satu sampai empat hari setelah infeksi, dengan rata-rata dua hari, dan biasanya berlangsung sekitar satu minggu. Artinya, seseorang bisa terlihat sehat beberapa hari setelah terpapar virus sebelum akhirnya jatuh sakit.
Sebagian besar orang yang terinfeksi flu A akan sembuh tanpa masalah berarti. Namun, ada kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami gejala berat hingga komplikasi:
Pada kelompok ini, influenza tidak selalu menjadi penyebab utama sakit berat, tetapi dapat memicu perburukan kondisi kesehatan yang sudah tidak stabil, terutama pada lansia dengan penyakit penyerta.
Inilah alasan flu A tidak boleh dianggap sama dengan flu biasa. Pada kasus berat atau yang terlambat ditangani, influenza dapat menimbulkan pneumonia, gagal napas, dan sepsis, yaitu peradangan menyeluruh yang mengancam jiwa. Penyakit kronis yang sudah ada pun bisa memburuk, misalnya serangan asma berat atau gangguan jantung.
Komplikasi paling banyak menimpa anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta. Karena itu, mencegah flu A jauh lebih baik daripada mengobati komplikasinya.
Penularan terjadi dengan cepat melalui percikan atau droplet yang dikeluarkan saat penderita batuk atau bersin. Virus juga dapat menempel pada permukaan benda terkontaminasi, lalu berpindah ketika tangan yang menyentuh benda tersebut kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Yang membuat penularan sulit dicegah adalah bahwa seseorang sudah bisa menularkan virus sekitar satu hari sebelum gejala muncul, dan tetap menular hingga lima sampai tujuh hari setelah gejala pertama. Orang yang tampak sehat pun bisa menjadi sumber infeksi tanpa disadari.
Sebagian besar kasus flu A dapat ditangani dengan istirahat di rumah. Namun, segera cari bantuan medis bila mengalami tanda berikut:
Untuk memastikan penyebab infeksi, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium dengan metode RT-PCR melalui usap hidung dan tenggorokan.
Pencegahan flu A bertumpu pada kebersihan diri dan kebiasaan hidup sehat yang diterapkan secara konsisten. Langkah berikut mengikuti panduan Kementerian Kesehatan RI.
Pola makan bergizi, aktivitas fisik rutin, cukup tidur, dan pengelolaan stres membantu menjaga daya tahan tubuh agar lebih kuat menghadapi infeksi.
Cuci tangan pakai sabun secara rutin, terutama setelah beraktivitas di luar rumah, sebelum makan, dan sebelum menyentuh wajah. Bila tidak tersedia air dan sabun, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol.
Masker menahan percikan droplet dari orang yang sedang sakit sehingga orang di sekitarnya tidak tertular. Masker juga dianjurkan bagi kelompok rentan ketika berada di tempat ramai atau ruangan tertutup.
Tutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan bagian dalam saat batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke tempat sampah dan cuci tangan. Hindari menutup dengan telapak tangan terbuka, karena tangan akan menyebarkan virus ke benda yang disentuh berikutnya.
Virus dapat berpindah dari permukaan benda ke tubuh ketika tangan yang terkontaminasi menyentuh mata, hidung, atau mulut. Sebisa mungkin hindari kebiasaan ini, terutama saat berada di tempat umum.
Ketika kasus sedang naik, membatasi kunjungan ke tempat ramai dan menjaga jarak dari orang yang sedang sakit membantu menurunkan peluang terpapar.
Vaksin influenza tahunan sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi, yaitu lansia, ibu hamil, anak-anak, tenaga kesehatan, dan orang dengan penyakit penyerta. Vaksin ini efektif mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian. Di Indonesia, vaksin influenza belum termasuk imunisasi rutin nasional, namun tetap direkomendasikan bagi kelompok berisiko.
Ketika gejala sudah muncul, utamakan mencegah penularan sekaligus memberi tubuh kesempatan pulih:
Pada kelompok berisiko tinggi atau kasus berat, dokter dapat memberikan obat antiviral. Yang perlu digarisbawahi, influenza disebabkan oleh virus sehingga tidak diatasi dengan antibiotik. Antibiotik hanya diperlukan bila dokter menemukan infeksi bakteri sebagai komplikasi.
Istilah super flu sempat ramai dibicarakan masyarakat. Istilah tersebut merujuk pada influenza A subtipe H3N2 subclade K, yang dilaporkan di puluhan negara termasuk Indonesia dan terdeteksi di 13 provinsi.
Penilaian otoritas kesehatan menunjukkan subtipe ini tidak menimbulkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan virus influenza lain yang beredar. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Virus ini juga bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang beredar setiap tahun.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk panik. Yang perlu dilakukan justru memperkuat langkah pencegahan di atas dan segera memeriksakan diri bila gejala memburuk.
Gejala flu A umumnya ringan, namun pada kelompok berisiko dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Bila gejala tidak kunjung membaik atau Anda termasuk kelompok rentan, konsultasikan ke dokter spesialis paru dan pernapasan.
RS Royal Progress memiliki dokter Spesialis Paru & Pernapasan yang ditangani dokter berpengalaman. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan penyebab gejala serta mencegah komplikasi sejak dini. Dan untuk kondisi gawat darurat seperti sesak nafas parah, segera hubungi IGD 24 Jam RS Royal Progress.
