Logo RS Royal Progress
Menu
Buat Janji Temu
Home Blog Alergi pada Anak: Jenis, Gejala, dan Kapan Harus ke Dokter

Alergi pada Anak: Jenis, Gejala, dan Kapan Harus ke Dokter

24/02/2026

Si kecil sering bersin tanpa sebab yang jelas? Muncul ruam merah tiba-tiba setelah terpapar sesuatu? Atau, anak mendadak bilang sakit perut setelah mengonsumsi makanan tertentu?

Tak sedikit orang tua yang mengira keluhan itu hanyalah flu ringan, masuk angin, atau sekadar reaksi sensitif biasa. Padahal, bisa jadi tubuh anak sedang memberi sinyal pertanda alergi. Yuk, baca sampai habis untuk memahami apa itu alergi pada anak, jenis, hingga kapan harus ke dokter!

Apa Itu Alergi pada Anak?

Pada dasarnya, alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh anak bereaksi secara berlebihan terhadap sesuatu yang biasanya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Zat pemicu ini kemudian disebut alergen.

Sebagai contoh, ketika anak yang memiliki "bakat alergi" terpapar alergen (misalnya serbuk sari atau kacang), tubuhnya akan menganggap zat tersebut sebagai ancaman. Alhasil, sistem imunnya kemudian bereaksi dengan memproduksi antibodi bernama Immunoglobulin E (IgE).

Selanjutnya, antibodi IgE memicu pelepasan zat kimia dalam tubuh, seperti histamin. Zat inilah yang menyebabkan peradangan dan berbagai gejala alergi, mulai dari hidung meler, bersin, hingga gatal-gatal pada kulit si kecil.

Faktor keturunan memegang peranan penting dalam terjadinya alergi pada anak. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat alergi, risiko anak untuk mengalami kondisi serupa akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak dari orang tua tanpa riwayat alergi.

Jenis-Jenis Alergi pada Anak

Alergi pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor di lingkungan sekitarnya. Berikut adalah beberapa jenis alergi yang paling umum dialami oleh anak.

1. Alergi Bubuk Debu, Serbuk Bunga, dan Hewan (Rhinitis Alergi)

Ini adalah jenis alergi yang paling sering terjadi pada anak. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut hay fever atau rinitis alergi musiman/tahunan. Berikut ini beberapa pemicunya:

  • Tungau Debu: Makhluk mikroskopis yang hidup pada debu rumah, kasur, dan bantal.
  • Serbuk Sari: Berasal dari pohon, rumput, atau tanaman liar.
  • Hewan Peliharaan: Bukan bulu hewan yang menjadi penyebab langsung, melainkan protein yang ditemukan dalam sel kulit mati (ketombe hewan), air liur, atau urine hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.
  • Jamur: Spora jamur yang tumbuh di tempat lembap seperti kamar mandi atau tumpukan daun.

2. Alergi Makanan

Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi, segera setelah anak mengonsumsi makanan tertentu. Reaksi ini bisa ringan hingga mengancam jiwa. Berikut adalah beberapa makanan yang paling sering menjadi pemicu alergi pada anak:

  • Susu sapi
  • Telur
  • Kacang tanah
  • Kacang pohon (seperti walnut, almond)
  • Ikan
  • Kerang-kerangan (udang, kepiting)
  • Kedelai
  • Gandum

Sebagai catatan penting, alergi makanan dan intoleransi makanan tidaklah sama. Alergi melibatkan sistem imun, sedangkan intoleransi makanan berkaitan dengan sistem pencernaan.

3. Alergi Obat

Reaksi alergi terhadap obat-obatan paling sering dipicu oleh antibiotik, khususnya dari golongan penisilin. Gejalanya bisa muncul segera setelah minum obat atau beberapa hari kemudian. Karena itu, selalu catat riwayat reaksi anak terhadap obat-obatan tertentu untuk menghindari peresepan ulang di masa depan.

4. Alergi Gigitan Serangga

Sebagian besar anak akan mengalami kemerahan atau bengkak ringan saat digigit serangga, dan kondisi ini biasanya tidak berbahaya. Namun, pada anak yang memiliki alergi, gigitan atau sengatan serangga seperti lebah, tawon, semut api, atau bahkan nyamuk dapat memicu reaksi yang jauh lebih serius.

Bengkaknya bisa meluas di sekitar area gigitan, terasa nyeri, dan berlangsung lebih lama. Pada kasus tertentu, reaksi yang muncul bahkan tidak terbatas di satu area saja, tetapi memengaruhi seluruh tubuh. Kondisi ini perlu orang tua waspadai karena dapat berkembang menjadi reaksi alergi berat yang membutuhkan penanganan medis segera.

Gejala Alergi pada Anak

Gejala alergi pada anak bisa muncul dalam berbagai bentuk, tergantung bagian tubuh mana yang bereaksi terhadap alergen. Dengan mengenali pola kemunculannya (apakah di kulit, saluran napas, atau pencernaan), Anda dapat membantu dokter untuk lebih mudah mendiagnosis jenis alergi yang dialami si kecil.

1. Gejala pada Saluran Pernapasan

Saluran napas umumnya menjadi bagian tubuh pertama yang bereaksi saat terpapar alergen di udara. Beberapa gejala yang kerap muncul, antara lain:

  • Hidung: Bersin berulang, hidung tersumbat, atau meler dengan cairan bening (bukan hijau/kental seperti infeksi bakteri).
  • Tenggorokan: Rasa gatal di tenggorokan atau langit-langit mulut, batuk kering yang tak kunjung sembuh.
  • Paru-paru: Sesak napas, dada terasa berat, atau napas berbunyi "ngik" (mengi). Gejala ini sering berkaitan dengan asma alergi.

2. Gejala pada Kulit

Sebagai organ terbesar tubuh, kulit menjadi bagian yang paling jelas menunjukkan tanda-tanda alergi secara kasat mata.

  • Eksim (Dermatitis Atopik): Kulit kering, merah, dan sangat gatal, sering muncul di lipatan siku, lutut, atau pipi pada bayi.
  • Urtikaria (Biduran/Kaligata): Bentol-bentol merah yang muncul tiba-tiba dan berpindah-pindah tempat, terasa sangat gatal.

3. Gejala pada Mata dan Hidung

Kondisi ini disebut allergic conjunctivitis. Gejalanya meliputi:

  • Mata merah, berair, dan gatal.
  • Bengkak pada kelopak mata.
  • Lingkaran hitam di bawah mata akibat pembengkakan pembuluh darah di rongga hidung.

4. Gejala pada Sistem Pencernaan

Kondisi ini umumnya dipicu oleh alergi makanan, dengan gejala seperti:

  • Sakit perut atau kram perut setelah makan.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Pada bayi, bisa berupa tinja berdarah atau kolik yang berlebihan.

Kapan Harus ke Dokter?

Sebagian orang tua mungkin memilih untuk memberikan penanganan awal secara mandiri saat gejala alergi pada anak muncul. Namun, ada beberapa kondisi yang membuat konsultasi medis segera dibutuhkan, yakni ketika:

  • Gejala Sudah Mengganggu Kualitas Hidup: Jika alergi membuat anak sering susah tidur, sulit berkonsentrasi di sekolah, atau absen dari kegiatan sehari-hari.
  • Gejala Tidak Membaik: Jika obat bebas atau over the counter (OTC) tidak lagi efektif meredakan gejala alergi.
  • Kecurigaan Asma: Bila anak sering batuk di malam hari atau setelah berolahraga, serta terdengar suara mengi.
  • Reaksi Makanan: Jika Anda menduga ada makanan tertentu yang memicu gejala alergi, sebaiknya hindari melakukan eliminasi secara mandiri tanpa arahan tenaga medis. Pendampingan yang tepat sangat penting agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi dan tumbuh kembangnya tidak terganggu.
  • Anafilaksis (Kedaruratan Medis): Ini adalah reaksi alergi parah yang terjadi cepat dan bisa mematikan. Segera bawa ke IGD jika anak mengalami:
    • Kesulitan bernapas atau menelan.
    • Bengkak pada bibir, lidah, atau tenggorokan.
    • Pusing, lemas, atau pingsan.
    • Muntah-muntah hebat disertai ruam sekujur tubuh.

Jangan biarkan alergi menghambat potensi terbaik si kecil. Jika Anda menemukan tanda-tanda seperti di atas, pertimbangkan untuk segera menjadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis anak di RS Royal Progress.

Dengan evaluasi yang tepat, Anda bisa memperoleh diagnosis yang lebih akurat dan rencana penanganan yang sesuai kebutuhan anak. Selain itu, Anda juga bisa memesan Paket Cek Alergi - IgE Atopy 54 Alergen secara online melalui website RS Royal Progress untuk mendeteksi berbagai pemicu alergi dengan lebih detail, mudah, dan praktis. Yuk, buat janji temu di sini!

FAQ

Apakah anak bisa sembuh total dari alergi?

Alergi adalah kondisi kronis yang berkaitan dengan genetika, sehingga tidak bisa "sembuh" atau dalam artian hilang total selamanya. Kendati demikian, ada anak yang berhasil "sembuh" dari alergi tertentu seiring bertambahnya usia, terutama untuk alergi susu dan telur. Sebaliknya, alergi terhadap kacang, ikan, atau serbuk sari cenderung bertahan seumur hidup.

Apakah alergi termasuk penyakit menular?

Tidak. Alergi tidak disebabkan oleh virus atau bakteri, melainkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh individu tersebut.

Bagaimana membedakan pilek biasa dengan alergi hidung?

Pilek biasanya disebabkan oleh virus, disertai demam ringan, lendir hidung berwarna kuning/hijau, dan sembuh dalam 7-10 hari. Alergi hidung biasanya berlangsung lebih lama (selama ada pemicunya), lendir bening/encer, tidak ada demam, dan sering disertai mata gatal atau berair.

Tes apa yang umum dilakukan untuk mendeteksi alergi pada anak?

Skin prick test (tes tusuk kulit) dan tes darah (IgE spesifik). Kedua tes ini dapat membantu mengidentifikasi pemicu alergi secara spesifik.

  • American College of Allergy, Asthma, and Immunology. "Children and Allergies." Diakses pada 19 Februari 2026.
  • American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. "Prevention of Allergies and Asthma in Children." Diakses pada 19 Februari 2026.
  • Ascensus Health. "Allergies in Children: What You Need To Know." Diakses pada 19 Februari 2026.
  • Bope, Edward T., and Kellie L. Flood. "Allergic Rhinitis." PubMed Central, National Institutes of Health. 2010. Diakses pada 19 Februari 2026

Artikel Lainnya

Sering Diabaikan, 7 Gejala Campak Ini Bisa Memicu Komplikasi Serius

Kasus campak di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, bahkan tercatat 8.224 suspek dengan 572 kasus terkonfirmasi hingga awal tahun 2026. Keadaan tersebut membuat masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala campak awal yang sering dianggap menyerupai flu biasa. Campak bukan hanya menyebabkan ruam kemerahan pada kulit, tetapi juga dapat memengaruhi saluran pernapasan hingga kondisi tubuh secara keseluruhan. […]
20/05/2026

Stunting Adalah Ancaman, Ini Penjelasan Lengkapnya

Pernah melihat anak-anak yang lebih pendek dibandingkan teman sebayanya? Kondisi tersebut bisa jadi tanda stunting. Berdasarkan laporan United Nation Children's Fund (UNICEF), Indonesia hingga kini masih menghadapi tantangan serius terkait stunting dan defisiensi zat gizi mikro. Banyak orang mengira stunting hanya berkaitan dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai usianya. Padahal, stunting memiliki dampak yang […]
12/03/2026

Anak Terlalu Kurus atau Gemuk? Ini Cara Menilai Berat Badan Ideal Sesuai Umur Anak

Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat anaknya terlihat lebih kurus atau lebih gemuk dibandingkan teman seusianya. Namun, menilai berat badan ideal sesuai umur anak tentu tidak bisa hanya didasari tampilan fisiknya saja. Penilaian haruslah mengacu pada grafik pertumbuhan dan evaluasi medis yang tepat. Menurut World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and […]
09/03/2026

Ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis yang tepat?

Dengan dokter spesialis berpengalaman, kami siap memberikan penanganan terbaik untuk setiap keluhan dan penyakit yang Anda alami. Jelajahi dokter di rumah sakit kami dan temukan dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Cari Dokter

Halo,
Ada yang bisa
Kami bantu?

Customer Care
crossmenuchevron-down